Thursday, 4 July 2013
Saturday, 15 June 2013
Bagian-bagian Kayu dan Identifikasi Kayu
Kayu merupakan bagian dari sebatang pohon. Kayu membesar akibat adanya pertumbuhan kambium. Tumbuhan bersifat tahunan, bertambah ke samping, mempunyai lignin, mempunyai pembuluh angkut.
Bagian-bagian kayu:
Macam-macam identifikasi kayu:
Bagian-bagian kayu:
- Kulit luar
- Kulit dalam
- Kambium
- Kayu gubal
- Kayu teras
- Hati/galih
- Kulit Luar Kayu bertugas sebagi pelindung bagian dalam kayu dari pengaruh-pengaruh iklim, serangan serangga dn jamur atau secara mekanis.
- Kambium merupakan jaringan yang berupa lapisan tipis dan bening yang melingkar pada pohon. Bertugas ke arah dalam membentuk kayu, ke arah luar membentuk kulit.
- Kayu Gubal merupakan bagian kayu yang terdiri dari sel-sel yang masih hidup dan masih berfungsi. bertugas menyalurkan bahan makanan dari daun ke bagian-bagian pohon yang lain.
- Kayu Teras merupakan bagian kayu yang terdiri dari sel-sel yang sudah tua dan mati. Berasal dari kayu gubal yang makin lama makin tua danmati, sehingga tidak berfungsi. Hanya bertugas sebagai pengokoh tumbuhnya pohon. lebih awet dan pada umumnya warna kayu lebih tua daripada kayu gubal.
- Hati merupakan bagian kayu yang berada di pusat pohon. Berasal dari kayu awal, yaitu kayu yang pertama-tama dibentuk oleh kambium dan bersifat rapuh, berupa jaringan gabus.
- Pori-pori merupakan sel-sel pembuluh kayu yang terpotong, sehingga memberi kesan lobang-lobang kecil (pori-pori). ukurannya berbeda untuk setiap jenis.
- Lingkaran Tahun/Tumbuh, dimana kondisi pertumbuhan pohon ditwntukan oleh lingkungan tumbuh, yaitu iklim. Mutu kayu dipengaruhi oleh tebalnya lingkaran tahun. Semakin tipis gelang tahun maka semakin kuat kayu karena dinding selnya relatif tebal.
- Secara Ilmiah, untuk membedakan jenis-jenis kayu secara teliti (sampai sel-sel mikroskopisnya).
- Dalam perdagangan, agar pembeli atau konsumen mengetahui dan tidak keliru dalam memilih suatu jenis kayu yang diinginkan.
Macam-macam identifikasi kayu:
- Makroskopis, identifikasi kayu melalui ciri-ciri kayu yang kasat mata. Artinya ciri-ciri tersebut dapat dilihat dengan mata biasa atau maksimal dengan bantuan lup tau kaca pembesar.
- Mikroskopis, identifikasi kayu menggunakan mikroskop ntuk dapat melihat dan mengamati sel-selnya.
ROTAN DAN PEMANFAATANNYA
DESKRIPSI
ROTAN
Rotan
adalah sekelompok palma dari ordo Calameae
yang memiliki habitus memanjat, terutama Calamus,
Daemonorops, dan Oncocalamus.
Ordo Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus anggota, dengan daerah persebaran
di bagian tropis Afrika, Asia dan Australasia. Rotan merupakan palem berduri
yang memanjat dan hasil hutan bukan kayu yang terpenting di Indonesia. Kata
rotan dalam bahasa Melayu diturunkan dari kata "raut" yang berarti
mengupas (menguliti), menghaluskan.
Batang
rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5cm, beruas-ruas panjang, tidak
berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam.
Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus
membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang
rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang tanaman rotan terbagi
menjadi ruas-ruas yang setiap ruas dibatasi oleh buku-buku. Batang rotan
mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup
di alam bebas. Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu
menunya.
Akar
tanaman rotan mempunyai sistem perakaran serabut, berwarna keputih-putihan atau
kekuning-kuningan atau kehitam-hitaman. Pelepah dan tangkai daun melekat pada
buku-buku tersebut. Tanaman rotan berdaun majemuk dan pelepah daun yang duduk
pada buku dan menutupi permukaan ruas batang. Daun rotan ditumbuhi duri,
umumnya tumbuh menghadap ke dalam berfungsi sebagai penguat mengaitkan batang
pada tumbuhan inang.
Rotan
termasuk tumbuhan berbunga majemuk. Bunga rotan terbungkus seludang. Biasanya,
bunga jantan dan bunga betina berumah satu tetapi ada pula yang berumah dua.
Karena itu, proses penyerbukan bunga dapat terjadi dengan bantuan angin atau
serangga penyerbuk. Buah rotan terdiri atas kulit luar berupa sisik yang
berbentuk trapesium dan tersusun secara vertikal dari toksis buah. Bentuk
permukaan buah rotan halus atau kasar berbulu, sedangkan bentuk buah rotan
umumnya bulat, lonjong atau bulat telur.
Rotan dapat
berbatang tunggal (soliter) atau berumpun. Rotan yang tumbuh soliter hanya
dipanen sekali dan tidak beregenerasi dari tunggul yang terpotong, sedangkan
rotan yang tumbuh berumpun dapat dipanen terus-menerus.
Rotan
merupakan salah satu sumber hayati Indonesia, penghasil devisa negara yang
cukup besar. Sebagian besar rotan berasal dari hutan di Indonesia, seperti
Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Indonesia memasok 70%
kebutuhan rotan dunia. Sisa pasar diisi dari Malaysia, Filipina, Sri Lanka, dan
Bangladesh.
Rotan cepat
tumbuh dan relatif mudah dipanen serta ditransprotasi. Ini dianggap membantu
menjaga kelestarian hutan, kaerna orang lebih suka memanen rotan daripada kayu.
Bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia, produk rotan sudah banyak dikenal
terutama pada masyarakat bawah dan menengah. Selain kegiatan pengolahan rotan,
maka perdagangan rotan juga telah banyak dilakukan. Terjalinnya hubungan dagang
dengan pihak luar negeri memacu kepada bertambahnya peran hasil rotan untuk meningkatkan
kontribusi penerimaan negara yang layak untuk diperhitungkan.
KEGUNAAN ROTAN
Pengolahan
rotan adalah pengerjaan lanjutan dari rotan bulat (rotan asalan) menjadi barang
setengah jadi dan barang jadi atau siap dipakai atau dijual. Pengolahan dalam
industri yaitu proses pemisahan rotan bulat menjadi bagian-bagian rotan seperti
kulit dan hati, masing-masing bagian tersebut diolah lagi sesuai tujuan dan
pemanfaatannya. Pengolahan rotan terdiri pengolahan rotan berdiameter kecil
(< 18 mm) dan rotan berdiamerter besar (> 18 mm).
Batang
polos rotan dimanfaatkan secara komersial untuk mebel dan anyaman rotan karena
kekuatan, kelenturan dan keseragamannya. Diperkirakan 20% spesies rotan
digunakan secara komersial baik dalam bentuk utuh maupun dalam belahan. Kulit
dan teras rotan dimanfaatkan untuk tikar dan keranjang. Di daerah pedesaan
banyak spesies rotan telah digunakan untuk berbagai tujuan seperti tali-temali,
konstruksi, keranjang, atap dan tikar.
Batang
rotan yang sudah tua banyak dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan dan perabot
rumah tangga. Batang yang muda digunakan untuk sayuran, akar dan buahnya untuk
bahan obat tradisional. Getah rotan dapat digunakan untuk bahan baku pewarnaan
pada industri keramik dan farmasi.
Manfaat tidak
langsung dari rotan adalah kontribusinya meningkatkan pendapatan masyarakat
sekitar hutan, peranannya dalam membentuk budaya, ekonomi, dan sosial
masyarakat. Batang rotan dapat dibuat bermacam-macam bentuk perabot rumah
tangga atau hiasan-hiasan lainnya. Misalnya mebel, kursi, rak, penyekat
ruangan, keranjang, tempat tidur, lemari, lampit, sofa, baki, pot bunga, dan
sebagainya. Selain itu, batang rotan juga dapat digunakan untuk pembuatan
barang-barang anyaman untuk dekorasi, tas tangan, kipas, bola takraw, karpet,
dan sebagainya.
Di bidang
konstruksi, batang rotan banyak dipakai untuk mengisi batang sepeda, alat
sandaran kapal, penahan pasir di daerah gurun pasir, bahkan dapat digunakan
untuk pengganti konstruksi tulangan beton. Batang rotan yang muda (umbut) dapat
dikonsumsi sebagai sayuran.
Buah rotan
biasanya dikonsumsi dalam pembuatan rujak. Selain itu, buah rotan juga
dikonsumsi oleh wanita yang sedang mengandung. Rasa buah rotan yang asam
menurut masyarakat dapat mengurangi rasa mual bagi wanita hamil yang sedang
mengidam.
HUBUNGAN ROTAN DENGAN MAKHLUK HIDUP LAIN
Rotan
mempunyai keterkaitan yang rumit dengan binatang-binatang di dalam hutan
seperti tumbuh-tumbuhan lainnya dalam hutan basah tropis. Banyak rotan yang
memberi tempat kehidupan bagi semut dalam helaian daun, duri, dan batangnya
mungkin hal ini merupakan suatu perlindungan terhadap pemangsaan.
Dalam
hubungan timbal balik antara semut dan rotan, semut memelihara kutu-kutu
bertepung yang menghasilkan embun madu. Bunga rotan berbau harum dan
penyerbukannya bergantung pada serangga termasuk semut, kumbang, trips, lebah,
tabuhan dan lalat. Burung, kera, monyet dan luang diperkirakan merupakan
pemencar biji rotan yang penting.
PEMANENAN ROTAN
Hal yang
sangat penting sebelum pemanfaatan hasil rotan adalah proses cara pemungutan
dan pasca panen. Rambatan rotan tidak saja hanya pada pohon penopangnya, akan
tetapi juga pada pohon-pohon sekitarnya dan kadang-kadang saling berjalinan
dengan cabang/ranting pohon. Keadaan tersebut kadang-kadang mengakibatkan para
penebang rotan akan mengalami kesulitan untuk menarik rotan secara keseluruhan
dimana sebagian rotan ada yang tertinggal di atas pohon.
Umur dan
tingkat ketuaan rotan yang siap dipanen berbeda. Rotan dipanen terutama dari
tumbuhan liar. Rotan yang akan dipanen adalah rotan yang masak tebang, dengan
ciri-ciri bagian bawah batang sudah tidak tertutup lagi oleh daun kelopak atau
selundang, sebagian daun sudah mengering, duri dan daun kelopak sudah rontok, warna
durinya berubah menjadi hitam atau kuning kehitam-hitaman; dan sebagian
batangnya sudah tidak dibalut oleh pelepah daun dan telah berwarna hijau.
Pemanenan
rotan dilakukan dengan cara mencari rotan yang masak tebang, kemudian menebang
pangkal rotan dengan pengkaitnya setinggi 10 sampai 50 cm, kemudian dengan
pengait batang ditarik agar terlepas dari pohon penopangnya. Rotan yang telah
dipanen kemudian dibersihkan dari daun dan duri serta dipotong-potong menurut
ukuran yang diinginkan. Setelah itu rotan diangkut ke Tempat Pengumpulan Sementara
(TPS) sampai ke Tempat Penimbunan Rotan (TPR) dengan cara memikul, menggunakan
perahu/sampan dan menggunakan kuda (Sinaga, 1986).
DISTRIBUSI DAN PEMASARAN ROTAN
Pola
distribusi pemasaran rotan ada dua yaitu dari petani ke pedagang pengumpul
pertama ke pedagang pengumpul kedua kemudian ke konsumen dan pola distribusi
dari petani ke pedagang pengumpul pertama langsung kepada konsumen. Sistem
penjualan dari petani ke pedagang pertama kemudian ke konsumen umumnya dalam
skala besar untuk mengurangi biaya. Umumnya pengrajin memproduksi kerajinan
berdasarkan pesanan, dimana sistem ini memiliki kelemahan yaitu pengrajin tidak
mempunyai akses informasi penjualan komoditas yang memiliki pasar. Hal ini
memaksa pedagang besar memesan kepada pengrajin dan kompensasi memberi
kemudahan penyediaan bahan baku.rotan
CENDANA (Santalum album)
Cendana (Santalum album Linn) sejak manusia di
dunia (sejak jaman Firaun) mengenal wewangian (atsiri) dan bahan pengawetan
(pembalsaman, seperti di Truyan Bali, Toraja, Mesir,China dll ) puluhan abad
yang lalu hingga kota Paris terkenal dengan produsen parfum, aroma teraphy dll.
International
Union for Conservation of Natural Resource (IUCN), 1997 sudah memasukkan
cendana jenis Santalum album Linn. ke
dalam kategori jenis yang hampir punah (vulnerable). Cendana merupakan tanaman
langka dan salah satu tanaman industri dan komoditi bagi masyarakat, karena
selain harga minyaknya mahal juga bisa digunakan sebagai obat alternatif, serta
untuk membawa orang lebih dekat dengan Tuhan. Cendana diburu secara illegal di
pelosok-pelosok hutan tropis terdalam sekalipun (hutan di Papua, Kalimantan,
Sumatera, NTT).
Cendana
(Santalum album) merupakan komoditas unggulan Provinsi NTT. Tanaman cendana
tumbuh baik pada ketinggian antara 50 – 1200 meter dpl, dengan curah hujan 1100
– 2000 mm/tahun. %. Cendana juga dapat hidup netral di tanah pasir, krikil,
bebatuan, gambut dsb.
Pertumbuhannya
yang lambat dan jangka waktu panen kayu teras yang mencapai 40-50 tahun membuat
harga kayu cendana relatif mahal. Pada umur 50 tahun, setiap batang pohon cendana
menghasilkan ata-rata 50-70 kg kayu teras. Sementara pada umur yang sama, dari
akar pohon cendana dapat dihasilkan 60 kg kayu teras. Populasi tanaman cendana
banyak ditemukan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Belu, dan Kupang.
Cendana
adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon
inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup
mendukung kehidupannya.
Secara
morfologis tanaman cendana memiliki ciri-ciri seperti berikut pohon kecil
sampai sedang, menggugurkan daun, dapat mencapai tinggi 20 m dan diameter 40
cm, tajuk ramping atau melebar, batang bulat agak berlekuk-lekuk, akar tanpa
banir. Daun tunggal, berhadapan, agak bersilangan, bertangkai daun, gundul,
bentuk elip, tepi rata, ujung runcing tetapi kadang-kadang tumpul atau bulat. Perbuangan
terminal atau eksiler, recimus articulatus, bunga pedicel 3-5 cm, gundul, tabung
perigonium berbentuk campanulatus, panjang 3 mm dan diameter ±2 mm, memiliki 4
cuping perigonium, bentuk segi tiga, tumpul pada bagian ujung dan kedua
permukaan gundul.
Cendana
memiliki buah batu dan bulat, waktu masak daging kulit buah berwarna hitam,
mempunyai lapisan eksocarp, mesocarp berdaging, endocarp keras dengan garis
dari ujung ke pangkal. Pohon cendana mempunyai ciri-ciri arsitektur: batang
monopodial, arthotropis (mengarah ke atas), pertumbuhan kontinu. Perbuangaan di
ujung dan atau di ketiak daun. Umur masak tebang (daur) cendana adalah 50 -60
tahun.
Pada umumnya
musim berbunga mulai desember–januari . Buah masak pada maret-juli. Dalam 1 kg
terdapat 5000-8000 biji yang mengandung 60% minyak merah kehitaman yang kental.
Minyak semakin kental jika terkena sinar matahari atau dipanaskan. Selain biji,
daun juga menghasilkan minyak berwarna kuning pucat.
Cendana,
dari segi pranata adat mempunyai nilai sosial budaya yang tinggi, misalnya
orang Miomaffomemandangnya sebagai tanaman keramat yang diistilahkan dengan
“Pah in balun” (hasil sari dari alam) sehingga pemanennya dilakukan melalui
ritual adat, dan sering dimanfaatkan dalam upacara adat, yaitu untuk mengusir
rohroh jahat khususnya yang berkaitan dengan kegiatan keluarga di desa-desa.
Cendana
merupakan hasil hutan ikutan yang dapat menghasilkan minyak atsiri dengan aroma
yang spesifik. Disamping itu cendana mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan
memiliki cakupan pemanfaatan dalam skala nasional dan internasional.
Sejarah
membuktikan, bahwa cendana telah diperjualbelikan sejak abad ke-3. Waktu itu
banyak kapal dagang yang datang ke Pulau Timor dan Pulau Sumba, kemudian
diangkut ke pelabuhan transito di wilayah Indonesia bagian barat (Sriwijaya)
untuk selanjutnya diteruskan ke India. Hal tersebut menarik perhatian
bangsa-bangsa lain, hingga pada abad ke-15 datanglah bangsa Eropa (Portugis, Belanda)
ke Pulau Timor untuk melakukan transaksi cendana. Sejak itu perdagangan cendana
semakin marak, di Pulau Timor terdapat 12 pelabuhan yang ramai dikunjungi kapal
dagang mancanegara.
KEGUNAAN CENDANA
Nilai
ekonomi yang tinggi dari cendana dihasilkan dari kandungan minyak (santalo)
dalam kayu yang beraroma wangi yang khas. Minyak cendana dihasilkan dari hasil
penyulingan kayu, dan digunakan sebagai bahan obat-obatan dan bahan minyak
wangi (parfum). Kayunya dipergunakan sebagai bahan industri kerajinan seperti
ukir-ukiran, patung, kipas, tasbih, dan lain-lain.
Minyak
cendana banyak diekspor ke Eropa, Amerika, China, Hongkong, Korea, Taiwan dan
Jepang. Sedangkan produk kerajinan dari kayu cendana banyak untuk konsumsi
dalam negeri. Kebutuhan minyak cendana dunia sekitar 200 ton per tahun.
Minyak
cendana memiliki kemampuan pengikatan dan pencampuran yang baik. Oleh karena
itu minyak cendana banyak digunakan pada industri parfum, kosmetik, dan
perlatan mandi. Minyak cendana bersifat antiseptik dan antibakteri. Beberapa
tetes minyak cendana dapat menenangkan penyakit bronkitis yang kronis. Di
china, minyak cendana dapat digunakan untuk mecegah mual, muntah, dan sakit
perut. Pemanfaatan lain pada beberapa produk pangan dan industri minuman.
Jumlah yang diperbolehkan maksimal 0,001%.
Minyak
Cendana juga digunakan sebagai obat gosok (dicampur dengan minyak kelapa).
Minyaknya mengandung santalol. Aroma minyak sangat harum, kental dan berwarna
kuning. Jika digunakan keharuman terus melekat berhari-hari, kandungan minyak
terdiri atas 90% sesquisterpen alkohol dengan komponen santalol berunsur 45-47%
alfa-santalol dan 20-30% beta-santalol. Beberapa kompponen minyak cendana kini
disintesis untuk mensubsitusi minyak aslinya seperi sandela, santaliso, kampanil sikloheksanol dan
trimetilsiklopentenil.
Kayunya (yang dipelihara
sampai berumur 20 – 40 tahun) dijadikan perhiasan, patung, kipas, kotak cerutu
dan alat rumah tangga lainnya. Kayu cendana, terutama kayu terasnya
dimanfaatkan sebagai bahan baku industri minyak cendana, patung/ukiran, kipas,
bahan kosmetik dan sebagai bahan pelengkap pada upacara ritual keagamaan.
Kayunya
digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum,
serta sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aroma cendana
selama berabad-abad. Menurut kisah setempat, di Sri Lanka kayu ini digunakan
untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9.
PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU (HHBK)
Hasil hutan
selain kayu, yang lebih dikenal dengan sebutan HHBK (hasil hutan bukan kayu),
selalu menduduki peran penting dan besar dalam ekonomi kehutanan di
negara-negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Hal ini tidak lepas dari
banyaknya jenis HHBK yang dapat diperoleh dari hutan, baik yang berasal dari
tumbuhan (HHBK nabati) maupun dari hewan (HHBK hayati). Pemanfaatan HHBK pada
umumnya untuk memenuhi kebutuhan akan pangan, energi, dan obat-obatan (HHBK FEM),
serta pemanfaatan lainnya (HHBK non FEM).
Pengembangan
HHBK dinilai strategis, tidak hanya bagi kepentingan ekonomi, tetapi juga
kelestarian hutan. Paham ini berakar dari banyaknya potensi HHBK yang mungkin
dapat dimanfaatkan dari hutan, dimana beberapa diantaranya memiliki nilai pasar
yang sangat kuat, sehingga mampu mendukung pembangunan sosial masyarakat
melalui peningkatan pendapatan dan keuntungan masyarakat sekitar hutan yang
selama ini terpinggirkan.
Strategi
yang dapat dilakukan untuk mempertahankan pasokan produk HHBK yang makin langka
tersebut hanya ada tiga cara, yaitu :
1. Eksplorasi
makin jauh ke dalam hutan agar terus mendapatkan pasokan
2. Mengganti
dengan produk HHBK lainnya yang sejenis
3. Mengembangkan
cara pemungutan yang lebih baik dan lestari atau membudidayakannya
Masalah Deforestasi dan Konflik Antara Perhutani dengan Masyarakat di Sekirar Hutan Sebagai Akibat Lemahnya Norma Sosial
Korban bencana banjir dan
longsor adalah mereka yang tinggal disekitar kawasan hutan. Bencana yang
terjadi itu disebabkan karena pengelolaan hutan yang tidak mengikuti
nilai-nilai social, budaya dan terutama ekologis. Itu juga terjadi karena hutan
tidak dikelola secara berkelanjutan, misalnya menebang hutan tanpa dilakukan
penanaman kembali.
Hutan terus mengalami
kerusakan dan kerugian yang tidak hanya diakibatkan pencurian kayu dan
perusakan tanaman, tetapi juga diakibatkan banyak faktor lain. Jika pada hutan
terus terjadi tekanan, maka hutan akan semakin berkurang dan bencana dampak
ekologi akan menerus ke sektor-sektor lain dan akan berdampak pada kehidupan
masyarakat secara luas. Dan yang menjadi inti dari persoalan adalah bagaimana
mempertemukan kepentingan kelestarian sumberdaya hutan dengan persoalan
kesejahteraan berjuta orang masyarakat desa sekitar hutan yang berada dalam garis
kemiskinan.
Adanya Penyusunan Rencana
Pengaturan Kelestarian Hutan (RKPH) seharusnya menjadi pedoman dalam
pelaksanaan pengelolaan hutan, tetapi ternyata tidak mengalami perubahan
mendasar sebagai sistem perencanaan sumberdaya hutan yang melibatkan masyarakat
desa sekitar hutan dan pemerintah daerah.
Salah satu upaya yang
dilakukan untuk mengatasi deforestasi dan konflik adalah dengan penerapan
sistem Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM), yang merupakan sistem
pengelolaan sumberdaya yang dilakukan bersama oleh perum Perhutani dan
masyarakat desa sekitar hutan dengan pihak yang berkepentingan dengan jiwa
berbagi, sehingga tercapai kepentingan bersama dalam fungsi dan pemantapan
sumberdaya hutan dapat diwujudkan secara optimal dan lestari.
Masyarakat yang berada di
sekitar hutan maupun didalam hutan berinteraksi secara langsung dengan hutan
merasakan dampak keberadaan hutan secara langsung, baik dalam arti positif
maupun negatif. Maka, itu menjadi alas an masyarakat di sekitar hutan
ditempatkan sebagai mitra utama pengelolaan hutan yang lestari. Namun,
keterlibatan masyarakat dalam PHBM hanya sebagai pemadam kebakaran dan pengaman
yang mengatasi deforestasi dan konflik, bukan menjadi bagian dari sistem
perencanaan sumberdaya hutan secara menyeluruh.
Masalah yang muncul dalam
PHBM itu sendiri antara lain berupa belum mantapnya bentuk kelembagaan misalnya
dalam bentuk komunikasi, persoalan hak kelola, keterlibbatan para pihak,
perjanjian kerjasama dan pembagian hasil.
Proses deforestasi dan
konflik selalu melibatkan interaksi dari masyarakat dengan sumberdaya hutan,
adanya peran perhutani dan adanya kebijakan dari pemerintah daerah. Keadilan
dalam pengelolaan sumberdaya hutan ditentukan adanya partisipasi dan interaksi
masyarakat yang terlibat secara langsung dalam pengelolaan sumberdaya kolektif.
Dalam prosesnya
deforestasi dipengaruhi oleh norma sosial yang dengan tradisi dan aturan yang
ada baik tertulis maupun tidak tertulis. Lemahnya kepercayaan berupa hak
kelola, relasi sosial, unsur norma berupa perjanjian kerjasama dan pembagian
hasil menyebakan pelaksanaan pengelolaan yang ada berjalan dengan tidak baik.
Sikap dalam menghadapi konlik yang ada juga lemah, lebih dengan cara menghindar
dan kompromi. Harusnya akan kuat bila ada sikap yang mau berkompetisi,
berkolaborasi dan ada akomodasi.
Dengan sikap
Perhutani yang tidak konsisten dalam menjalankan kebiijakannya untuk
menyelesaikan deforestasi dan konflik mengakibatkan tidak adanya terbangun
relasi sosial yang baru yang akan menumbuhkan rasa saling percaya, saling
hormat atau respek dan saling menguntungkan antara Perhutani dengan masyarakat
sekitar hutan. Ini terjadi ketika ada fakta bahwa peraturan itu tidak
dijalankan dengan baik sehingga timbul konflik, padahal normatifnya peraturan
tersebut harus dilaksanakan agar tercapai tujuan bersama.
Friday, 31 May 2013
KODE ETIK RIMBAWAN
Rimbawan adalah seseorang yang mempunyai pendidikan kehutanan dan atau pengalaman di bidang kehutanan dan terikat oleh norma-norma sebagai berikut:
Cangkuang - Sukabumi, 4 Nopember 1999
- Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Menempatkan hutan alam sebagai bagian dari upaya mewujudkan martabat dan integritas bangsa di tengah bangsa-bangsa lain sepanjang jaman.
- Menghargai dan melindungi nilai-nilai kemajemukan sumberdaya hutan dan sosial budaya setempat.
- Bersikap obyektif dalam melaksanakan segenap aspek kelestarian fungsi ekonomi, ekologi dan sosial hutan secara seimbang dimanapun dan kapanpun bekerja dan berdarma bakti.
- Menguasai, meningkatkan, mengembangkan, mengamalkan ilmu dan teknologi berwawasan lingkungan dan kemasyarakatan yang berkaitan dengan hutan dan kehutanan.
- Menjadi pelopor dalam setiap upaya pendidikan dan penyelematan lingkungan dimanapun dan kapanpun rimbawan berada.
- Berprilaku jujur, bersahaja, terbuka, komunikatif, bertanggung gugat, demokratis, adil, ikhlas dan mampu bekerjasama dengan semua pihak sebagai upaya dalam mengemban profesinya.
- Bersikap tegar, teguh dan konsisten dalam melaksanakan segenap bidang gerak yang diembannya, serta memiliki kepekaan, proaktif, tanggap, dinamis dan adaptif terhadap perubahan lingkungan strategis yang mempengaruhinya baik di tingkat lokal, nasional, regional, dan global.
- Mendahulukan kepentingan tugas rimbawan dan kepentingan umum (publik interest) saat ini dan generasi yang akan datang, di atas kepentingan-kepentingan lain.
- Menjunjung tinggi dan memelihara jiwa korsa rimbawan.
Cangkuang - Sukabumi, 4 Nopember 1999
Subscribe to:
Posts (Atom)