Showing posts with label kehutanan. Show all posts
Showing posts with label kehutanan. Show all posts

Tuesday, 10 June 2014

DATA DAN INFORMASI

Informasi dan data adalah istilah yang tidak dapat dipisahkan, karena informasi dan data adalah satu kesatuan. Meskipun suatu data bersifat penting, namun data masih belum bisa dijadikan sesuatu yang bermanfaat untuk dijadikan sebuah keputusan. Maka, untuk menjadi sebuah informasi yang bermanfaat, data-data yang ada kemudian dikumpulkan lalu diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan suatu informasi.

Data 
  1. Data adalah sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya dan masih memerlukan adanya suatu pengolahan. Data bisa berwujud suatu keadaan, gambar, suara, huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbol-simbol lainnya yang bisa kita gunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu konsep.
  2. Merupakan sekumpulan fakta yang diambil dari beberapa kejadian yang memiliki arti penting yang dapat berbentuk sebuah file yang dapat disimpan.

Informasi
  1. Merupakan hasil pengolahan dari sebuah model, formasi, organisasi, ataupun suatu perubahan bentuk dari data yang memiliki nilai tertentu, dan bisa digunakan untuk menambah pengetahuan bagi yang menerimanya. Dalam hal ini, data bisa dianggap sebagai obyek dan informasi adalah suatu subyek yang bermanfaat bagi penerimanya. Informasi juga bisa disebut sebagai hasil pengolahan ataupun pemrosesan data.
  2. Merupakan kumpulan data yang sudah melalui proses pengolahan sehingga dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang yang kemudian digunakan untuk pengambilan suatu keputusan atau tindakan.
  3. Segala macam keterangan yang dapat diambil oleh seseorang dengan sumber yang jelas sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi si penerima informasi tersebut.
  4. Merupakan hasil pemrosesan, manipulasi dan pengorganisasian/penataan dari sekelompok data yang mempunyai nilai pengetahuan (knowledge) bagi penggunanya.
Perbedaan Data dan Informasi
DATA
INFORMASI
Bersifat mentah
Hasil olahan yang lebih berguna
Untuk pengolahan lebih lanjut
Untuk acuan mengambil keputusan
Belum jelas isinya dan belum sempurna
Sumber pemahaman yang telah  sempurna

Contoh :
  1. Seorang manajer bermaksud merencanakan sebuah proyek, namun si manajer kekurangan data mengenai proyek tersebut maka otomatis informasi yang dia miliki tidaklah memadai atau bahkan dia sama sekali tidak mendapatkan informasi, yang akan terjadi adalah proyek tersebut gagal dilaksanakan.
  2. Didalam kegiatan suatu perusahaan, dari hasil transaksi penjualan oleh sejumlah salesman, dihasilkan sejumlah faktor-faktor yang merupakan data dari penjualan pada suatu periode tertentu. Faktur-faktur penjualan tersebut masih belum dapat memberikan informasi yang baik bagi manajemen. Untuk pengambilan keputusan bagi manajemen, maka faktur-faktur tersebut harus diolah lebih lanjut untuk menjadi suatu informasi. Sesudah diolah, akan dapat diperoleh informasi, antara lain mengenai :
  3. a. Laporan penjualan penjualan setiap salesman, yang berfungsi untuk memberikan besarnya komisi dan bonus. b. Laporan penjualan setiap daerah, yang berfungsi untuk pelaksanaan promosi dan periklanan. c. Laporan penjualan setiap jenis barang, yang berfungsi untuk mengontrol persediaan barang dan untuk mengevaluasi barang yang tidak atau kurang laku terjual.
Manfaat Informasi/Data :
  1. Sebagai komponen utama atau penting dalam system informasi, karena merupakan dasar dalam menyediakan informasi
  2. Menentukan kualitas informasi yaitu cepat, akurat, dan relevan, sehingga infromasi yang disajikan tidak basi. Informasi dapat dikatakan bernilai bila manfaatnya lebih efektif dibandingkan dengan biaya mendapatkanya.
  3. Mengatasi kerangkapan data (redundancy data)
  4. Menghindari terjadinya inkonsistensi data
  5. Mengatasi kesulitan dalam mengakses data
  6. Menyusun format yang standar dari sebuah data
  7. Penggunaan oleh banyak pemakai (multiple user). Sebuah database bisa dimanfaatkan sekaligus secara bersama oleh banyak pengguna (multiuser).
  8. Melakukan perlindungan dan pengamanan data. Setiap data hanya bisa diakses atau dimanipulasi oleh pihak yang diberi otoritas dengan memberikan login dan password terhadap masing-masing data.
  9. Agar pemakai mampu menyusun suatu pandangan (view) abstraksi dari data. Hal ini bertujuan menyederhanakan interaksi antara pengguna dengan sistemnya dan database dapat mempresentasikan pandangan yang berbeda kepada para pengguna, programmer dan administratornya.


Saturday, 15 June 2013

ROTAN DAN PEMANFAATANNYA

DESKRIPSI ROTAN
Rotan adalah sekelompok palma dari ordo Calameae yang memiliki habitus memanjat, terutama Calamus, Daemonorops, dan Oncocalamus. Ordo Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus anggota, dengan daerah persebaran di bagian tropis Afrika, Asia dan Australasia. Rotan merupakan palem berduri yang memanjat dan hasil hutan bukan kayu yang terpenting di Indonesia. Kata rotan dalam bahasa Melayu diturunkan dari kata "raut" yang berarti mengupas (menguliti), menghaluskan.
Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang tanaman rotan terbagi menjadi ruas-ruas yang setiap ruas dibatasi oleh buku-buku. Batang rotan mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas. Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu menunya.
Akar tanaman rotan mempunyai sistem perakaran serabut, berwarna keputih-putihan atau kekuning-kuningan atau kehitam-hitaman. Pelepah dan tangkai daun melekat pada buku-buku tersebut. Tanaman rotan berdaun majemuk dan pelepah daun yang duduk pada buku dan menutupi permukaan ruas batang. Daun rotan ditumbuhi duri, umumnya tumbuh menghadap ke dalam berfungsi sebagai penguat mengaitkan batang pada tumbuhan inang.
Rotan termasuk tumbuhan berbunga majemuk. Bunga rotan terbungkus seludang. Biasanya, bunga jantan dan bunga betina berumah satu tetapi ada pula yang berumah dua. Karena itu, proses penyerbukan bunga dapat terjadi dengan bantuan angin atau serangga penyerbuk. Buah rotan terdiri atas kulit luar berupa sisik yang berbentuk trapesium dan tersusun secara vertikal dari toksis buah. Bentuk permukaan buah rotan halus atau kasar berbulu, sedangkan bentuk buah rotan umumnya bulat, lonjong atau bulat telur.
Rotan dapat berbatang tunggal (soliter) atau berumpun. Rotan yang tumbuh soliter hanya dipanen sekali dan tidak beregenerasi dari tunggul yang terpotong, sedangkan rotan yang tumbuh berumpun dapat dipanen terus-menerus.
Rotan merupakan salah satu sumber hayati Indonesia, penghasil devisa negara yang cukup besar. Sebagian besar rotan berasal dari hutan di Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Indonesia memasok 70% kebutuhan rotan dunia. Sisa pasar diisi dari Malaysia, Filipina, Sri Lanka, dan Bangladesh.

Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah dipanen serta ditransprotasi. Ini dianggap membantu menjaga kelestarian hutan, kaerna orang lebih suka memanen rotan daripada kayu. Bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia, produk rotan sudah banyak dikenal terutama pada masyarakat bawah dan menengah. Selain kegiatan pengolahan rotan, maka perdagangan rotan juga telah banyak dilakukan. Terjalinnya hubungan dagang dengan pihak luar negeri memacu kepada bertambahnya peran hasil rotan untuk meningkatkan kontribusi penerimaan negara yang layak untuk diperhitungkan.
KEGUNAAN ROTAN
Pengolahan rotan adalah pengerjaan lanjutan dari rotan bulat (rotan asalan) menjadi barang setengah jadi dan barang jadi atau siap dipakai atau dijual. Pengolahan dalam industri yaitu proses pemisahan rotan bulat menjadi bagian-bagian rotan seperti kulit dan hati, masing-masing bagian tersebut diolah lagi sesuai tujuan dan pemanfaatannya. Pengolahan rotan terdiri pengolahan rotan berdiameter kecil (< 18 mm) dan rotan berdiamerter besar (> 18 mm).
Batang polos rotan dimanfaatkan secara komersial untuk mebel dan anyaman rotan karena kekuatan, kelenturan dan keseragamannya. Diperkirakan 20% spesies rotan digunakan secara komersial baik dalam bentuk utuh maupun dalam belahan. Kulit dan teras rotan dimanfaatkan untuk tikar dan keranjang. Di daerah pedesaan banyak spesies rotan telah digunakan untuk berbagai tujuan seperti tali-temali, konstruksi, keranjang, atap dan tikar.
Batang rotan yang sudah tua banyak dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan dan perabot rumah tangga. Batang yang muda digunakan untuk sayuran, akar dan buahnya untuk bahan obat tradisional. Getah rotan dapat digunakan untuk bahan baku pewarnaan pada industri keramik dan farmasi.
Manfaat tidak langsung dari rotan adalah kontribusinya meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan, peranannya dalam membentuk budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat. Batang rotan dapat dibuat bermacam-macam bentuk perabot rumah tangga atau hiasan-hiasan lainnya. Misalnya mebel, kursi, rak, penyekat ruangan, keranjang, tempat tidur, lemari, lampit, sofa, baki, pot bunga, dan sebagainya. Selain itu, batang rotan juga dapat digunakan untuk pembuatan barang-barang anyaman untuk dekorasi, tas tangan, kipas, bola takraw, karpet, dan sebagainya.
Di bidang konstruksi, batang rotan banyak dipakai untuk mengisi batang sepeda, alat sandaran kapal, penahan pasir di daerah gurun pasir, bahkan dapat digunakan untuk pengganti konstruksi tulangan beton. Batang rotan yang muda (umbut) dapat dikonsumsi sebagai sayuran.
Buah rotan biasanya dikonsumsi dalam pembuatan rujak. Selain itu, buah rotan juga dikonsumsi oleh wanita yang sedang mengandung. Rasa buah rotan yang asam menurut masyarakat dapat mengurangi rasa mual bagi wanita hamil yang sedang mengidam.

HUBUNGAN ROTAN DENGAN MAKHLUK HIDUP LAIN
Rotan mempunyai keterkaitan yang rumit dengan binatang-binatang di dalam hutan seperti tumbuh-tumbuhan lainnya dalam hutan basah tropis. Banyak rotan yang memberi tempat kehidupan bagi semut dalam helaian daun, duri, dan batangnya mungkin hal ini merupakan suatu perlindungan terhadap pemangsaan.
Dalam hubungan timbal balik antara semut dan rotan, semut memelihara kutu-kutu bertepung yang menghasilkan embun madu. Bunga rotan berbau harum dan penyerbukannya bergantung pada serangga termasuk semut, kumbang, trips, lebah, tabuhan dan lalat. Burung, kera, monyet dan luang diperkirakan merupakan pemencar biji rotan yang penting.
PEMANENAN ROTAN
Hal yang sangat penting sebelum pemanfaatan hasil rotan adalah proses cara pemungutan dan pasca panen. Rambatan rotan tidak saja hanya pada pohon penopangnya, akan tetapi juga pada pohon-pohon sekitarnya dan kadang-kadang saling berjalinan dengan cabang/ranting pohon. Keadaan tersebut kadang-kadang mengakibatkan para penebang rotan akan mengalami kesulitan untuk menarik rotan secara keseluruhan dimana sebagian rotan ada yang tertinggal di atas pohon.
Umur dan tingkat ketuaan rotan yang siap dipanen berbeda. Rotan dipanen terutama dari tumbuhan liar. Rotan yang akan dipanen adalah rotan yang masak tebang, dengan ciri-ciri bagian bawah batang sudah tidak tertutup lagi oleh daun kelopak atau selundang, sebagian daun sudah mengering, duri dan daun kelopak sudah rontok, warna durinya berubah menjadi hitam atau kuning kehitam-hitaman; dan sebagian batangnya sudah tidak dibalut oleh pelepah daun dan telah berwarna hijau.
Pemanenan rotan dilakukan dengan cara mencari rotan yang masak tebang, kemudian menebang pangkal rotan dengan pengkaitnya setinggi 10 sampai 50 cm, kemudian dengan pengait batang ditarik agar terlepas dari pohon penopangnya. Rotan yang telah dipanen kemudian dibersihkan dari daun dan duri serta dipotong-potong menurut ukuran yang diinginkan. Setelah itu rotan diangkut ke Tempat Pengumpulan Sementara (TPS) sampai ke Tempat Penimbunan Rotan (TPR) dengan cara memikul, menggunakan perahu/sampan dan menggunakan kuda (Sinaga, 1986).
DISTRIBUSI DAN PEMASARAN ROTAN

Pola distribusi pemasaran rotan ada dua yaitu dari petani ke pedagang pengumpul pertama ke pedagang pengumpul kedua kemudian ke konsumen dan pola distribusi dari petani ke pedagang pengumpul pertama langsung kepada konsumen. Sistem penjualan dari petani ke pedagang pertama kemudian ke konsumen umumnya dalam skala besar untuk mengurangi biaya. Umumnya pengrajin memproduksi kerajinan berdasarkan pesanan, dimana sistem ini memiliki kelemahan yaitu pengrajin tidak mempunyai akses informasi penjualan komoditas yang memiliki pasar. Hal ini memaksa pedagang besar memesan kepada pengrajin dan kompensasi memberi kemudahan penyediaan bahan baku.rotan

CENDANA (Santalum album)

Cendana (Santalum album Linn) sejak manusia di dunia (sejak jaman Firaun) mengenal wewangian (atsiri) dan bahan pengawetan (pembalsaman, seperti di Truyan Bali, Toraja, Mesir,China dll ) puluhan abad yang lalu hingga kota Paris terkenal dengan produsen parfum, aroma teraphy dll.
International Union for Conservation of Natural Resource (IUCN), 1997 sudah memasukkan cendana jenis Santalum album Linn. ke dalam kategori jenis yang hampir punah (vulnerable). Cendana merupakan tanaman langka dan salah satu tanaman industri dan komoditi bagi masyarakat, karena selain harga minyaknya mahal juga bisa digunakan sebagai obat alternatif, serta untuk membawa orang lebih dekat dengan Tuhan. Cendana diburu secara illegal di pelosok-pelosok hutan tropis terdalam sekalipun (hutan di Papua, Kalimantan, Sumatera, NTT).
Cendana (Santalum album) merupakan komoditas unggulan Provinsi NTT. Tanaman cendana tumbuh baik pada ketinggian antara 50 – 1200 meter dpl, dengan curah hujan 1100 – 2000 mm/tahun. %. Cendana juga dapat hidup netral di tanah pasir, krikil, bebatuan, gambut dsb.
Pertumbuhannya yang lambat dan jangka waktu panen kayu teras yang mencapai 40-50 tahun membuat harga kayu cendana relatif mahal. Pada umur 50 tahun, setiap batang pohon cendana menghasilkan ata-rata 50-70 kg kayu teras. Sementara pada umur yang sama, dari akar pohon cendana dapat dihasilkan 60 kg kayu teras. Populasi tanaman cendana banyak ditemukan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Belu, dan Kupang.
Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya.
Secara morfologis tanaman cendana memiliki ciri-ciri seperti berikut pohon kecil sampai sedang, menggugurkan daun, dapat mencapai tinggi 20 m dan diameter 40 cm, tajuk ramping atau melebar, batang bulat agak berlekuk-lekuk, akar tanpa banir. Daun tunggal, berhadapan, agak bersilangan, bertangkai daun, gundul, bentuk elip, tepi rata, ujung runcing tetapi kadang-kadang tumpul atau bulat. Perbuangan terminal atau eksiler, recimus articulatus, bunga pedicel 3-5 cm, gundul, tabung perigonium berbentuk campanulatus, panjang 3 mm dan diameter ±2 mm, memiliki 4 cuping perigonium, bentuk segi tiga, tumpul pada bagian ujung dan kedua permukaan gundul.
Cendana memiliki buah batu dan bulat, waktu masak daging kulit buah berwarna hitam, mempunyai lapisan eksocarp, mesocarp berdaging, endocarp keras dengan garis dari ujung ke pangkal. Pohon cendana mempunyai ciri-ciri arsitektur: batang monopodial, arthotropis (mengarah ke atas), pertumbuhan kontinu. Perbuangaan di ujung dan atau di ketiak daun. Umur masak tebang (daur) cendana adalah 50 -60 tahun.
Pada umumnya musim berbunga mulai desember–januari . Buah masak pada maret-juli. Dalam 1 kg terdapat 5000-8000 biji yang mengandung 60% minyak merah kehitaman yang kental. Minyak semakin kental jika terkena sinar matahari atau dipanaskan. Selain biji, daun juga menghasilkan minyak berwarna kuning pucat.
Cendana, dari segi pranata adat mempunyai nilai sosial budaya yang tinggi, misalnya orang Miomaffomemandangnya sebagai tanaman keramat yang diistilahkan dengan “Pah in balun” (hasil sari dari alam) sehingga pemanennya dilakukan melalui ritual adat, dan sering dimanfaatkan dalam upacara adat, yaitu untuk mengusir rohroh jahat khususnya yang berkaitan dengan kegiatan keluarga di desa-desa.
Cendana merupakan hasil hutan ikutan yang dapat menghasilkan minyak atsiri dengan aroma yang spesifik. Disamping itu cendana mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan memiliki cakupan pemanfaatan dalam skala nasional dan internasional.
Sejarah membuktikan, bahwa cendana telah diperjualbelikan sejak abad ke-3. Waktu itu banyak kapal dagang yang datang ke Pulau Timor dan Pulau Sumba, kemudian diangkut ke pelabuhan transito di wilayah Indonesia bagian barat (Sriwijaya) untuk selanjutnya diteruskan ke India. Hal tersebut menarik perhatian bangsa-bangsa lain, hingga pada abad ke-15 datanglah bangsa Eropa (Portugis, Belanda) ke Pulau Timor untuk melakukan transaksi cendana. Sejak itu perdagangan cendana semakin marak, di Pulau Timor terdapat 12 pelabuhan yang ramai dikunjungi kapal dagang mancanegara.
KEGUNAAN CENDANA
Nilai ekonomi yang tinggi dari cendana dihasilkan dari kandungan minyak (santalo) dalam kayu yang beraroma wangi yang khas. Minyak cendana dihasilkan dari hasil penyulingan kayu, dan digunakan sebagai bahan obat-obatan dan bahan minyak wangi (parfum). Kayunya dipergunakan sebagai bahan industri kerajinan seperti ukir-­ukiran, patung, kipas, tasbih, dan lain-lain.
Minyak cendana banyak diekspor ke Eropa, Amerika, China, Hongkong, Korea, Taiwan dan Jepang. Sedangkan produk kerajinan dari kayu cendana banyak untuk konsumsi dalam negeri. Kebutuhan minyak cendana dunia sekitar 200 ton per tahun.
Minyak cendana memiliki kemampuan pengikatan dan pencampuran yang baik. Oleh karena itu minyak cendana banyak digunakan pada industri parfum, kosmetik, dan perlatan mandi. Minyak cendana bersifat antiseptik dan antibakteri. Beberapa tetes minyak cendana dapat menenangkan penyakit bronkitis yang kronis. Di china, minyak cendana dapat digunakan untuk mecegah mual, muntah, dan sakit perut. Pemanfaatan lain pada beberapa produk pangan dan industri minuman. Jumlah yang diperbolehkan maksimal 0,001%.
Minyak Cendana juga digunakan sebagai obat gosok (dicampur dengan minyak kelapa). Minyaknya mengandung santalol. Aroma minyak sangat harum, kental dan berwarna kuning. Jika digunakan keharuman terus melekat berhari-hari, kandungan minyak terdiri atas 90% sesquisterpen alkohol dengan komponen santalol berunsur 45-47% alfa-santalol dan 20-30% beta-santalol. Beberapa kompponen minyak cendana kini disintesis untuk mensubsitusi minyak aslinya seperi sandela, santaliso, kampanil sikloheksanol dan trimetilsiklopentenil.
Kayunya (yang dipelihara sampai berumur 20 – 40 tahun) dijadikan perhiasan, patung, kipas, kotak cerutu dan alat rumah tangga lainnya. Kayu cendana, terutama kayu terasnya dimanfaatkan sebagai bahan baku industri minyak cendana, patung/ukiran, kipas, bahan kosmetik dan sebagai bahan pelengkap pada upacara ritual keagamaan.

Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aroma cendana selama berabad-abad. Menurut kisah setempat, di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9.

PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU (HHBK)

Hasil hutan selain kayu, yang lebih dikenal dengan sebutan HHBK (hasil hutan bukan kayu), selalu menduduki peran penting dan besar dalam ekonomi kehutanan di negara-negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Hal ini tidak lepas dari banyaknya jenis HHBK yang dapat diperoleh dari hutan, baik yang berasal dari tumbuhan (HHBK nabati) maupun dari hewan (HHBK hayati). Pemanfaatan HHBK pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan akan pangan, energi, dan obat-obatan (HHBK FEM), serta pemanfaatan lainnya (HHBK non FEM).
Pengembangan HHBK dinilai strategis, tidak hanya bagi kepentingan ekonomi, tetapi juga kelestarian hutan. Paham ini berakar dari banyaknya potensi HHBK yang mungkin dapat dimanfaatkan dari hutan, dimana beberapa diantaranya memiliki nilai pasar yang sangat kuat, sehingga mampu mendukung pembangunan sosial masyarakat melalui peningkatan pendapatan dan keuntungan masyarakat sekitar hutan yang selama ini terpinggirkan.
Strategi yang dapat dilakukan untuk mempertahankan pasokan produk HHBK yang makin langka tersebut hanya ada tiga cara, yaitu :
1.      Eksplorasi makin jauh ke dalam hutan agar terus mendapatkan pasokan
2.      Mengganti dengan produk HHBK lainnya yang sejenis
3.      Mengembangkan cara pemungutan yang lebih baik dan lestari atau membudidayakannya

Masalah Deforestasi dan Konflik Antara Perhutani dengan Masyarakat di Sekirar Hutan Sebagai Akibat Lemahnya Norma Sosial

Korban bencana banjir dan longsor adalah mereka yang tinggal disekitar kawasan hutan. Bencana yang terjadi itu disebabkan karena pengelolaan hutan yang tidak mengikuti nilai-nilai social, budaya dan terutama ekologis. Itu juga terjadi karena hutan tidak dikelola secara berkelanjutan, misalnya menebang hutan tanpa dilakukan penanaman kembali.
Hutan terus mengalami kerusakan dan kerugian yang tidak hanya diakibatkan pencurian kayu dan perusakan tanaman, tetapi juga diakibatkan banyak faktor lain. Jika pada hutan terus terjadi tekanan, maka hutan akan semakin berkurang dan bencana dampak ekologi akan menerus ke sektor-sektor lain dan akan berdampak pada kehidupan masyarakat secara luas. Dan yang menjadi inti dari persoalan adalah bagaimana mempertemukan kepentingan kelestarian sumberdaya hutan dengan persoalan kesejahteraan berjuta orang masyarakat desa sekitar hutan yang berada dalam garis kemiskinan.
Adanya Penyusunan Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan (RKPH) seharusnya menjadi pedoman dalam pelaksanaan pengelolaan hutan, tetapi ternyata tidak mengalami perubahan mendasar sebagai sistem perencanaan sumberdaya hutan yang melibatkan masyarakat desa sekitar hutan dan pemerintah daerah.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi deforestasi dan konflik adalah dengan penerapan sistem Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM), yang merupakan sistem pengelolaan sumberdaya yang dilakukan bersama oleh perum Perhutani dan masyarakat desa sekitar hutan dengan pihak yang berkepentingan dengan jiwa berbagi, sehingga tercapai kepentingan bersama dalam fungsi dan pemantapan sumberdaya hutan dapat diwujudkan secara optimal dan lestari.
Masyarakat yang berada di sekitar hutan maupun didalam hutan berinteraksi secara langsung dengan hutan merasakan dampak keberadaan hutan secara langsung, baik dalam arti positif maupun negatif. Maka, itu menjadi alas an masyarakat di sekitar hutan ditempatkan sebagai mitra utama pengelolaan hutan yang lestari. Namun, keterlibatan masyarakat dalam PHBM hanya sebagai pemadam kebakaran dan pengaman yang mengatasi deforestasi dan konflik, bukan menjadi bagian dari sistem perencanaan sumberdaya hutan secara menyeluruh.
Masalah yang muncul dalam PHBM itu sendiri antara lain berupa belum mantapnya bentuk kelembagaan misalnya dalam bentuk komunikasi, persoalan hak kelola, keterlibbatan para pihak, perjanjian kerjasama dan pembagian hasil.
Proses deforestasi dan konflik selalu melibatkan interaksi dari masyarakat dengan sumberdaya hutan, adanya peran perhutani dan adanya kebijakan dari pemerintah daerah. Keadilan dalam pengelolaan sumberdaya hutan ditentukan adanya partisipasi dan interaksi masyarakat yang terlibat secara langsung dalam pengelolaan sumberdaya kolektif.
Dalam prosesnya deforestasi dipengaruhi oleh norma sosial yang dengan tradisi dan aturan yang ada baik tertulis maupun tidak tertulis. Lemahnya kepercayaan berupa hak kelola, relasi sosial, unsur norma berupa perjanjian kerjasama dan pembagian hasil menyebakan pelaksanaan pengelolaan yang ada berjalan dengan tidak baik. Sikap dalam menghadapi konlik yang ada juga lemah, lebih dengan cara menghindar dan kompromi. Harusnya akan kuat bila ada sikap yang mau berkompetisi, berkolaborasi dan ada akomodasi.
Dengan sikap Perhutani yang tidak konsisten dalam menjalankan kebiijakannya untuk menyelesaikan deforestasi dan konflik mengakibatkan tidak adanya terbangun relasi sosial yang baru yang akan menumbuhkan rasa saling percaya, saling hormat atau respek dan saling menguntungkan antara Perhutani dengan masyarakat sekitar hutan. Ini terjadi ketika ada fakta bahwa peraturan itu tidak dijalankan dengan baik sehingga timbul konflik, padahal normatifnya peraturan tersebut harus dilaksanakan agar tercapai tujuan bersama.

Monday, 11 March 2013

KLIMATOLOGI

Klimatologi merupakan ilmu yang mencari gambaran dan penjelasan sifat dan macam iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi berbeda dan bagaimana kaitannya antara iklim dengan aktivitas manusia.
Dengan kata lain klimatologi adalah ilmu yang mempelajari jenis iklim di muka bumi dan faktor penyebabnya.

Konsep dasar klimatologi, yaitu :
·         Atmosfer, daratan dan perairan sebagai penunjang kehidupan di bumi dan ruang aktivitas gerak.
·         Radiasi surya sebagai sumber utamaenergi kehidupan
·         Bumi berotasi terhadap matahari menyebabkan terjadinya siang dan malam dengan gejala fisik atmosfer yang berbeda.
·         Revolusi bumi menyebabkan perubahan kedudukan arah dari matahari membentuk pola bulan demi bulan dalam periode siklus tahunan.

Cuaca dan Iklim merupakan susunan nilai unsur fisika atmosfer yang terdiri dari :
-          Radiasi matahari
-          Lama penyinaran matahari
-          Suhu udara
-          Kelembaban udara
-          Kecepatan dan arah angin
-          Penutupan awan
-          Persipitasi
-          Evaporasi evapotranspirasi

CUACA
Merupakan nilai sesaat dari atmosfer, serta perubahan dalam jangka pendek (1-24 jam) di suatu tempat tertentu di bumi.
Nilai tersebut dalam 24 jam membentuk pola siklus yang disebut perubahan cuaca diurnal (perubahan cuaca yang normal). Nilai rata-ratanya menghasilkan cuaca tanggal tersebut.
Harus melakukan pencatatan terus menerus pada jam-jam tertentu secara rutin, sehingga menghasilkan suatu data yang dapat digunakan untuk menentukan iklim.

IKLIM
Merupakan sintesis atau kesimpulan dari perubahan nilai unsur cuaca (hari-bulan) dalam jangka panjang di suatu tempat.
Data iklim terbentuk dari data cuaca yang representatif tentang atmosfer suatu tempat yang luas dan dalam jangka waktu sepanjang mungkin.

Sunday, 10 March 2013

ILMU TANAH


Pendahuluan
Tanah dalam pertanian merupakan media tumbuhya tanaman darat.
Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa-sisa baha organisme (vegetasi dan hewan) yang hidup diatasnya atau didalamnya. Selain itu, di dalam tanah juga terdapat udaradan air.
Tanah dalam defenisi ilmiah merupakan kumpulan dari benda alam di permukaan bumi tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahkan bahan organik air dan udara dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman.
Lahan (land) meliputi tanah beserta faktor fisik lingkungannya seperti lereng, hidrologi, iklim, dsb.
Pedologi merupakan ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah besertafaktor-faktor pembentuknya, klasifikasi tanah, survei tanah dan cara-cara pengamatan tanah di lapangan.
Edaphologi mempelajari tanah dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman, yaitu tanah sebagai alat produksi pertanian/kehutanan.

Bahan penyusun tanah, terdiri dari :
Tanah lapisan atas
-          Bahan mineral : 45%
-          Bahan organik : 5%
-          Udara              : 20-30%
-          Air                   : 20-30%
Komposisi bahan jumlahnya berbeda untuk setiap lapisan dan jenis tanah berbeda.

Bahan mineral
Sumber : pelapukan batuan. Susunan mineral di tanah berbeda sesuai dengan susunan mineral dalam batuan yang lapuk.

Jenis batuan :
a.       Batuan Beku/Vulkanik (dari gunung api) banyak mengandung unsur hara, berwarna hitam, lebih subur.
b.      Batuan Endapan/Sedimen,diendapkan berjuta-juta tahun, rendah kadar unsur hara.
c.       Batuan metamorfosa, batuan beku tau metamorfosa yang karena suhu dan tekanan menjadi berubah bentuk, rendah kadar unsur hara, banyak mengandung kalsium.


Bahan mineral menurut ukurannya :
a.      Fragmen Batuan berukuran 2 mm, ukuran horizontalnya lebh kecil dari sebuah pedon. Cth : kerikil, kerakal atau batu.
b.      Fraksi Tanah Halus berukuran <2 mm. Cth : Pasir, debu, liat.

Mineral menurut proses pembentukannya :
-          Mineral Primer, berasal langsung dari pelapukan batuan. Fraksi dari pasir dan debu.
-          Mineral Sekunder, mineral bentukan baru yang terbentuk selama proses pembentukan tanah. Fraksi dari liat.

Bahan Organik
Pengaruh BO terhadap sifat tanah :
-          Sebagai granulator, memperbaiki struktur tanah
-          Sumber unsur hara N, P, S,  unsur mikro
-          Menambah kemampuan tanah menahan air
-          Menambah kemampuan tanah menahan unsur hara
-          Sumber energi bagi mikroorganisme

Pelapukan BO :
BO kasar dihancurkan oleh mikroorganisme menjadi BO halus + humus (resisten)

Penyebaran BO :
Semakin ke lapisan bawah, semakin sedikit BO. Oleh karena itu, top soil perlu dipertahankan.
Pada daerah rawa, BO tebal karena terjadi penumpukan BO yang lebih cepat daripada proses pelapukan.

Friday, 8 March 2013

Gajah Sumatera

Nama latin: Elephas maximus sumatrensis

Ciri-ciri Fisik
Gading gajah Sumatera jantan relatif lebih pendek jika dibandingkan sub-species gajah lainnya, sedangkan gajah betina memiliki gading yang sangat pendek dan tersembunyi di balik bibir atas. Ketahanan hidup gajah cenderung berbeda-beda. Gajah-gajah yang dipelihara dengan baik mampu bertahan hidup hingga 70 tahun, sedangkan di alam bebas dengan kondisi ancaman yang tinggi – usianya bisa lebih singkat. Tinggi gajah jantan Sumatra dewasa bisa mencapai antara 1,7 – 2,6 meter.

Gajah Sumatera adalah salah satu dari sub-spesies gajah Asia dan semua gajah Asia digolongkan sebagai satwa terancam punah (endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Gajah Sumatera menghadapi ancaman serius berupa aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, pembunuhan akibat konflik dan perburuan. Kelangsungan hidup populasi gajah ini dalam jangka panjang terancam oleh cepatnya konversi hutan menjadi perkebunan dan tanaman komersial. Saat ini populasi gajah Sumatera adalah antara 2,400 – 2,800 ekor.

Gajah Sumatera merupakan ‘spesies payung’ bagi habitatnya dan mewakili keragaman hayati di dalam ekosistem yang kompleks tempatnya hidup. Artinya konservasi satwa besar ini akan membantu mempertahankan keragaman hayati dan integritas ekologi dalam ekosistemnya, sehingga akhirnya ikut menyelamatkan berbagai spesies kecil lainnya. Dalam satu hari, gajah mengonsumsi sekitar 150 kg makanan dan 180 liter air dan membutuhkan areal jelajah hingga 20 kilometer persegi per hari. Biji tanaman dalam kotoran mamalia besar ini akan tersebar ke seluruh areal hutan yang dilewatinya dan membantu proses regenerasi hutan alam.

Ancaman
Ancaman utama bagi gajah Sumatera adalah hilangnya habitat mereka akibat aktivitas penebangan hutan yang tidak berkelanjutan dan disusul akibat perburuan dan perdagangan liar. Pulau Sumatera merupakan salah satu wilayah dengan laju deforestasi hutan terparah di dunia dan populasi gajah berkurang lebih cepat dibandingkan jumlah hutannya. Penyusutan atau hilangnya habitat satwa besar ini telah memaksa mereka masuk ke kawasan berpenduduk sehingga memicu konflik manusia dan gajah, yang sering berakhir dengan kematian gajah dan manusia, kerusakan lahan kebun dan tanaman dan harta benda.

Dalam seperempat abad terakhir ini estimasi populasi gajah Sumatera di Propinsi Riau, yang telah lama menjadi benteng populasi gajah, menurun sebesar 84% hingga tersisa sekitar 210 ekor saja di tahun 2007. Jika kecenderungan ini terus berlanjut dan dua lansekap hutan luas yang masih tersisa, Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh, tidak dilindungi maka populasi gajah Riau tidak akan bertahan lebih lama lagi dan akan mengalami kepunahan lokal.

Pengembangan industri pulp dan kertas serta industri kelapa sawit adalah salah satu pemicu hilangnya habitat gajah di Sumatera. Pembangunan perkebunan sawit mendorong terjadinya konflik manusia-satwa yang semakin hari kian memuncak. Pohon-pohon sawit muda adalah makanan kesukaan gajah dan kerusakan yang ditimbulkan gajah ini dapat menyebabkan terjadinya pembunuhan (umumnya dengan peracunan) dan penangkapan. Ratusan gajah mati atau hilang di seluruh Propinsi Riau sejak tahun 2000 sebagai akibat berbagai penangkapan satwa besar yang sering dianggap ‘hama’ ini.

Melindungi kawasan hutan yang tersisa merupakan hal yang sangat penting agar kelangsungan hidup populasi gajah Sumatera dapat terus berlanjut. Koridor-koridor satwa liar dalam kawasan hutan harus dipertahankan atau diciptakan kembali sehingga dapat menyediakan wilayah yang aman bagi gajah untuk memperoleh sumber-sumber makanan baru dan berkembang biak.

HARIMAU SUMATERA

Nama Latin: Panthera tigris sumatrae
Harimau Sumatera merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered). Jumlah populasinya di alam bebas hanya sekitar 400 ekor. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mempertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga.

Harimau Sumatera menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup: mereka kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan illegal dimana bagian-bagian tubuhnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap untuk obat-obatan tradisional, perhiasan, jimat dan dekorasi. Harimau Sumatera hanya dapat ditemukan di pulau Sumatera, Indonesia.

Ciri-ciri Fisik
Harimau Sumatera memiliki tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini.
Jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm dan panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250 cm dan berat hingga 140 kg. Harimau betina memiliki panjang rata-rata 198 cm dan berat hingga 91 kg.
Warna kulit harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua.

Ancaman
Harimau Sumatera berada di ujung kepunahan karena hilangnya habitat secara tak terkendali, berkurangnya jumlah spesies mangsa, dan perburuan. Laporan tahun 2008 yang dikeluarkan oleh TRAFFIC – program kerja sama WWF dan lembaga Konservasi Dunia, IUCN, untuk monitoring perdagangan satwa liar – menemukan adanya pasar ilegal yang berkembang subur dan menjadi pasar domestik terbuka di Sumatera yang memperdagangkan bagian-bagian tubuh harimau. Dalam studi tersebut TRAFFIC mengungkapkan bahwa paling sedikit 50 harimau Sumatera telah diburu setiap tahunnya dalam kurun waktu 1998- 2002. Penindakan tegas untuk menghentikan perburuan dan perdagangan harimau harus segera dilakukan di Sumatera.

Populasi Harimau Sumatera yang hanya sekitar 400 ekor saat ini tersisa di dalam blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut, dan hutan hujan pegunungan. Sebagian besar kawasan ini terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Bersamaan dengan hilangnya hutan habitat mereka, harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia dan seringkali dibunuh atau ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan tanpa sengaja dengan manusia.

Provinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi harimau Sumatera. Sayangnya, sekalipun sudah dilindungi secara hukum, populasi harimau terus mengalami penurunan hingga 70 persen dalam seperempat abad terakhir. Di Provinsi Riau, saat ini diperkirakan hanya tersisa 192 ekor harimau di Riau.

Orangutan Sumatera

Nama latin: Pongo abelii
Orangutan Sumatera adalah jenis orangutan yang paling terancam di antara dua spesies orangutan yang ada di Indonesia. Dibandingkan dengan 'saudaranya' di Borneo, orangutan Sumatera mempunyai perbedaan dalam hal fisik maupun perilaku. Spesies yang saat ini hanya bisa ditemukan di propinsi-propinsi bagian utara dan tengah Sumatera ini kehilangan habitat alaminya dengan cepat karena pembukaan utan uantu perkebunan dan pemukiman serta pembalakan liar.

Terdapat 13 kantong populasi orangutan di pulau Sumatera. Dari jumlah tersebut kemungkinan hanya tiga kantong populasi yang memiliki sekitar 500 individu dan tujuh kantong populasi terdiri dari 250 lebih individu. Enam dari tujuh populasi tersebut diperkirakan akan kehilangan 10-15% habitat mereka akibat penebangan hutan sehingga populasi ini akan berkurang dengan cepat.

Menurut IUCN, selama 75 tahun terakhir populasi orangutan Sumatera telah mengalami penurunan sebanyak 80%. DAlam kurun waktu 1998 da 1999, laju kehilangan tersebut dilaporkan mencapai sektar 1000 orangutan per tahun dan terdapat di Ekosistem Leuser, salah satu luasan hutan terbesar di bagian utara Pulau Sumatera. Saat ini populasi orangutan Sumatera diperkirakan hanya tersisa sekitar 6.500-an ekor (Rencana Aksi dan Strategi Konservasi Orangutan, Dephut 2007) dan dala IUC Red List edisi tahun 2002, orangutan Sumatera dikategorikan Critically Endangered atau sudah sanat terancam kepunahan.

Ciri-ciri Fisik
Kebalikan dari orangutan Borneo, orangutan Sumatera mempunyai kantung pipi yang panjang pada orangutan jantan. Panjang tubuhnya sekitar 1,25 meter sampai 1,5 meter. Beart orangutan dewasa betina sekitar 30-50 kilogram, sedangkan yang jantan sekitar 50-90 kilogram. Bulu-bulunya berwarna coklat kemerahan.

Jantan dewasa umumnya penyendiri sementara para betina sering dijumpai bersama anaknya di hutan. Rata-rata setiap kelompok terdirid ari 1-2 orangutan dan kedua jenis kelamin mempunyai daya jelajah sekitar 2-10 kilometer yang banyak bertumpang tindih tergantung pada ketersediaan buah di hutan. Setelah disapih pada umur 3,5 tahun, anak orangutn akan berasur-angsur independen dari induknya setelah kelahiran anak yang lebih kecil. Orangutan Sumatera betin mulai berproduksi pada usia 10-11 tahun, dengan rata-rata usia reproduksi sekitar 15 tahun.

Pola Makan
Sekitar 60% makanan orangutan adalah buah-buahan seperti durian, nangka, leci, mangga dan buah ara, sementara sisanya adalah pucuk daun muda, serangga, tanah, kulit pohon dan kadang-kadang telur serta vertebrata kecil. Mereka juga tidak hanya mendapatkan air dari buah-buahan tetapi juga dari lubang-lubang pohon. Orangutan Sumatera diketahui menggunakan potongan ranting untuk mengambil biji buah. Hal ini menunjukkan tingkat intelegensi yang tinggi pada orangutan Sumatera.

Ancaman
Ancaman terhadap populasi orangutan Sumatera mencakup hilangnya habitat hutan yang menjadi perkebunan sawit, pertambangan, pembukaan jalan, legal dan illegal logging, kebakaran hutan dan perburuan.

Penurunan dan Hilangnya Habitat
Habitat orangutan di Sumatera menghilang dengan sangat cepat. Di Sumatera Utara, diperkirakan tutupan hutan telah berkurang dari sekitar 3,1 juta hektar di tahun 1985 menjadi 1,6 juta hektar pada 2007. Sebaran orangutan di masa yang lalu diperkirakan hingga ke Sumatera Barat (Yeager, 1999), tetapi saat ini sebaran orangutan di habitat aslinya hanya terdapat di Aceh dan Sumatera Utara serta areal reintroduksi orangutan di perbatasan Jambi dan Riau.

Sebuah rencana untuk membangun jalan besar melalui Ekosistem Leusr di bagian utara Sumatera saat ini mengancam habitat orangutan. Jalan raya ini setidaknya akan memotong Ekosistem Leuser di sembilan tempat dan unit-unit habitat tambahan orangutan di bagian utara yang lebih jauh. Diperkirakanjika jalan raya tersebut dibuat melintasi kawasan hutan, penebangan liar pun akan semakin meluas sehingga meningkatkan ancaman terhadap habitat orangutan Sumatera.

Perburuan
Meskipun telah dilindungi oleh hukum di Indonesia sejak 1931, perdagangan liar orangutan untuk dijadikan hewan peliharaan merupakan salah satu ancaman terbesar bagi satwa langka ini. Saat ini di beberapa lokasi di sumatera utara dilaporkan telah terjadi konflik antara orangutan dan manusia akibat adanya embukaan hutan alam untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit di habitat atau wilayah jelajah orangutan. Akibat fatal biasanya menimpa orangutan.

Program Konservasi Orangutan Sumatera

Latar Belakang
Orangutan sumatra (Pongo abelii) terancam keberadaan populasinya dengan jumlah yang tersisa pada saat ini hanya sekitar 6.600 ekor saja. Oleh karena itu, dengan populasinya semakin menurun, orangutan sumatra diadopsi oleh World Conservation Union (IUCN) ke dalam daftar merah spesies terancam yang mereka keluarkan di bawah kategori Spesies Sangat Terancam Punah (Critically Endangered). Penghancuran massal terhadap hutan hujan tropis yang merupakan habitat mereka menjadi salah satu alasan utama menurunnya jumlah orangutan di alam liar.

Manusia dan aktifitas mereka merupakan ancaman yang serius terhadap keberadaan orangutan sumatera, seperti halnya terhadap banyak spesies hewan lainnya di Indonesia. Habitat alami mereka, hutan hujan tropis terutama yang berada di dataran rendah, terus menyusut hingga batas membahayakan di bawah tekanan pertumbuhan penduduk, sebagai dampak perluasan area pertanian serta pemanfaatan hutan secara berlebihan dan melanggar peraturan. Kebakaran hutan disebabkan metode tebang dan bakar yang terus berlanjut menyebabkan kerusakan hutan yang tidak bisa diukur lagi.

Program Konservasi Orangutan Sumatra (PKOS), atau secara internasional dikenal sebagai Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP)merupakan program kolaborasi yang melibatkan PanEco Swiss,YEL, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Dit. Jen PHKA) Kementerian Kehutanan dan Frankfurt Zoological Society (FZS). Program ini memiliki berbagai kegiatan yang melibatkan semua aspek tentang pelestarian orangutan sumatera, antara lain:
Penyelamatan, karantina dan pelepas liaran orangutan yang dipelihara secara illegal
Survei dan pemantauan populasi orangutan sumatera yang masih tersisa
Penelitian tentang pelestarian dan ekologi perilaku orangutan sumatera di alam liar
Pendidikan konservasi dan penyadaran

Tujuan
Upaya-upaya untuk meningkatkan kesempatan bagi orangutan untuk bertahan hidup merupakan tujuan umum di bawah payung PKOS, dengan fokus utama penyitaan, karantina, sosialisasi dan reintroduksi (pelepas liaran) terhadap orangutan sitaan yang sebelumnya dipelihara secara ilegal.

Sejak 1973, orangutan Sumatera yang sebelumnya dipelihara secara illegal sebagai hewan peliharaan, telah berhasil dilepaskan ke lingkungan Taman Nasional Gunung Leuser, di dekat perkebunan desa Bukit Lawang di Sumatera Utara. Meskipun begitu, pada pertengahan tahun ’90-an, peraturan dan regulasi nasional maupun internasional membuat pelepasan liaran orangutan ke beberapa wilayah yang telah dihuni oleh orangutan liar yang sehat telah membuat jumlah populasinya tidak dapat diterima (dikarenakan resiko penularan penyakit dan kelebihan populasi). Tindakan kemudian diambil oleh PanEco dengan melibatkan YEL dalam mendirikan sebuah pusat karantina orangutan di Batu Mbelin, Sibolangit, Sumatera Utara, sebagai pusat pemeriksaan medis bagi orangutan yang sebelumnya dijadikan hewan peliharaan secara ilegal dan, bersama-sama dengan Frankfurt Zoological Society, mendirikan sebuah Pusat Reintroduksi Orangutan di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Jambi, dimana pada saat ini telah berhasil mereintroduksi orangutan sehat yang jumlahnya mencapai 100 ekor.

Selain daripada kegiatan reintroduksi, PKOS juga aktif dalam penelitian, survei dan monitoring terhadap populasi orangutan liar yang tersisa, bekerja untuk meningkatkan perlindungan terhadap sisa habitat orangutan yang tersisa di Sumatera dan meningkatkan pendidikan konservasi dan kesadaran diantara komunitas yang hidup berdampingan dengan habitat orangutan liar. Untuk tujuan tersebut, stasiun rehabilitasi lama yang terletak di tepi sungai Bohorok di kaki Taman Nasional Gunung Leuser direstrukturisasi kembali menjadi pusat pengkajian dan pengamatan orangutan.

Di awal tahun 2011, PKOS bekerja sama dengan Dit.Jen PHKA Kementerian Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh meresmikan pusat pelepas liaran orangutan yang berada di dalam kawasan Cagar Alam Hutan Pinus Jantho atas izin Kementerian Kehutanan dan hingga saat ini telah melepas liarkan sebanyak 14 orangutan yang berasal dari Aceh dan sebelumnya dirawat di pusat karantina Batu Mbelin.

KEHUTANAN

Hutan tropis Indonesia adalah rumah dan persembunyian terakhir bagi kekayaan hayati dunia yang unik. Keanekaragaman hayati yang terkandung di hutan Indonesia meliputi 12 persen species mamalia dunia, 7,3 persen species reptil dan amfibi, serta 17 persen species burung dari seluruh dunia. Diyakini masih banyak lagi spesies yang belum teridentifikasi dan masih menjadi misteri tersembunyi di dalamnya. Sebuah contoh nyata misalnya, data WWF menunjukkan antara tahun 1994-2007 saja ditemukan lebih dari 400 spesies baru dalam dunia sains di hutan Pulau Kalimantan.

Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Berdasarkan data FAO tahun 2010 hutan dunia – termasuk di dalamnya hutan Indonesia – secara total menyimpan 289 gigaton karbon dan memegang peranan penting menjaga kestabilan iklim dunia.

Sayangnya kerusakan hutan di tanah air cukup memprihatinkan. Berdasarkan catatan Kementrian Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang.

Kerusakan atau ancaman yang paling besar terhadap hutan alam di Indonesia adalah penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi perkebunan, kebakaran hutan dan eksploitasi hutan secara tidak lestari baik untuk pengembangan pemukiman, industri, maupun akibat perambahan. Kerusakan hutan yang semakin parah menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem hutan dan lingkungan disekitarnya. Contoh nyata yang frekuensinya semakin sering terjadi adalah konflik ruang antara satwa liar dan manusia. Rusaknya hutan habitat satwa liar menyebabkan mereka bersaing dengan manusia untuk mendapatkan ruang mencari makan dan hidup, yang sering kali berakhir dengan kerugian bagi kedua pihak. Rusaknya hutan telah menjadi ancaman bagi seluruh makhluk hidup.

Tuesday, 22 January 2013

HUTAN DAN PERANAN BUDI DAYA HUTAN

  1. Pendahuluan
Separuh dari hutan yang ada dimuka bumi ini tergolong sebagai hutan tropik. Hutan tropik telah rusak akibat kesalahan dalam sistem pengolahan maupun akibat berbagai aktivitas manusia.
  1. Hutan Tropik
            Bagian bumi tempat berlangsungnya kehidupan di dunia terdiri atas berbagai bioma, yaitu ekosistem regional yang memiliki komunitas (kumpulan brbagai jenis biota) yang serupa. Contoh dari bioma, seperti bioma lautan, air tawar, dan daratan. Termasuk bioma daratan, misalnya hutan tropik, hutan iklim sedang, savana dan tundra. Hutan tropik merupakan bioma daratan yang dicirikan oleh suhu  kurang lebih  250C dengan perbedaan suhu siang dan malam maupun suhu musim hujan dan musim kering yang  tidak mencolok.
            Indonesia terletak di daerah tropik, sehingga hutan yang ada bertipe hujan tropik. Indonesia memiliki wilayah 750 juta hektar dengan luas daratan 193 juta hektar(24,7 %). Dari 193 juta hektar lahan di Indonesia, 25%  diantaranya berupa lingkungan hidup binaan manusia, misalnya lahan desa, kota, jalan dan industri.
         Hutan di Indonesia telah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh berbagai kegiatan                        manusia.Kenyataanya bahwa hutan di Indonesia sudah banyak menyusut dibandingkan dengan keadaan 25 tahun yang lalu. Ketika pertama kali hutan Negara di anggap dan di perlakukan sebagai sumber devisa yang mampu membayar cicilan utang luar negeri.
      Dalam rangka mennyusun rencana induk rehabilitasi lahan kawasan hutan dan dalam rangka mempersiapkan program kehutanan nasional. Departemen kehutanan dan perkebunan telah melakukan rekaptulasi sumber daya hutan dan kebun terhadap areal hutan reproduksi, hutan lindung, dan kawasan konservasi. Kawasan hutan lindung dan kawasan hutan koservasi rekaptulasi telah dilakukan menggunakan data hasil pemetaan potret udara dan airbone radar.

  1. HUTAN DAN KEHUTANAN
            Hutan adalah masyarakat tumbuhan yang kompleks, terdiri dari pepohonan, semak, tumbuhan bawah, jasad renik tanah dan hewan. Suatu lapangan yang ditumbuhi pepohonan dikatakan sebagai hutan apabila minimum lapangan yang ditumbuhi pohon sekitar ¼ hektar.
            Kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan  hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang di selenggarakan secara terpadu. Pengurusan hutan bertujuan untuk memperoleh  manfaat yang sebesar-besarnya dan  lestari untuk memakmurkan masyarakat.

  1. JENIS-JENIS HUTAN

1. Hutan Lindung
Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai pelindung sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah.
2. Hutan Produksi
            Hutan produksi ialah kawasan hutan yang nempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan. Hasil utama dari hutan produksi berupa kayu sedangkan hasil hutan lainnya disebut hasil hutan lainnya disebut hasil hutan nirkayu yang mencakup rotan, bambu, tumbuhan obat, rumput, bunga, buah, biji, kulit kayu, daun, lateks (getah), resin (dammar, kopal, gom, gondorukem, dan jernang) dan zat ekstraktif lainnya berupa minyak.
3. Hutan Konservasi
            Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok mengawetkan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Hutan konservasi dikelompokkan menjadi tiga jenis berdasarkan fungsinya yaitu hutan suaka alam, hutan pelestarian alam dan taman buru.
4. Hutan Negara
Hutan negara ialah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. Hutan Negara merupakan hutan yang tumbuh diatas tanah yang bukan milik. Hutan yang dikelola oleh masyarakat hokum adat dimasukkan dalam pengertian hutan negara sebagai konsekuensi adanya hak menguasai oleh negara  sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat di tingkatan yang tertingi pada prinsip Negara kesatuan republik Indonesia.
5. Hutan Hak
Hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak  atas tanah.Hutan hak yang berada pada tanah yang  dibebani hak milik lazim disebut hutan rakyat.  Dengan demikian, hutan rakyat merupakan hutan yang tumbuh atau ditanam di atas tanah milik masyarakat baik secara individu atau bersama-sama atau badan hukum.

  1. TIPE-TIPE HUTAN

1. Hutan Alam
Hutan alam yaitu hutan yang terjadi melalui proses suksesi secara alam.Hutan ala mini dibagi atas dua jenis yaitu:
a.    Hutan alam primer merupakan hutan alam asli yang belum pernah dilakukan penebangan oleh manusia.
b.    Hutan alam sekunder merupakan hutan asli yang pernah mengalami kerusakan oleh kegiatan alam.


2. Hutan Antropogen
Hutan antropogen merupakan hutan yang terjadi melalui proses suksesi komunitas tumbuhan dengan campur tangan manusia.Hutan tersebut mencakup hutan trubusan, hutan tanaman, hutan penggembalaan antropogen, hutan  lading, dan hutan kebakaran antropogen.
3. Hutan Hujan Tropik
Hutan hujan tropik merupakan bentuk hutan klimaks utama dari hutan-hutan di dataran rendah yang mempunyai tiga stratum (lapisan tajuk)pohon A.B,C atau lebih. Di hutan tropik terdapat stratifikasi tajuk pohon dari berbagi spesies pohon yang berbeda ketinggiannya. Berdasarkan ketinggian tempat tumbuhnya,hutan tropik dibedakan menjadi tiga zona, yaitu :
a.  zona 1=0-1000 m dari permukaan laut disebut hutan hujan bawah
b.  zona 2=1000-3300 m dari permukaan laut disebut hutan hujan tengah
c.  zona 3=3300-4100 m dari permukaan laut disebut hutan hujan atas
4. Hutan Musim
Hutan musim merupakan hutan campuran yang terdapat di daerah beriklim muson,yaitu daerah yang daerah yang memiliki perbedaan nyata antara musim kemarau dan musim basah.Hutan musim merupakan salah satu tipe hutan yang terdapat pada daerah-daerah dengan tipe iklim C dan D dan rata-rata curahh hujan setahun antara 1000 mm dan 2000 mm. Berdasarkan ketinggian tempat tumbuhnya, hutan musim di bedakan menjadi dua zona yaitu :
a.     zona 1=0-1000 m dari permukaan laut disebut hutan musim bawah.
b.    zona 2=1000-4100 m dari permukaan laut disebut hutan musim tengah dan atas.
5. Hutan Gambut
Hutan gambut adalah hutan yang tumbuh di atas kawasan yang di genangi air dalam keadaan asam dengan pH 3,5-4,0. Kondisi seperti itu menyebabkan tanahnya miskin hara.

6. Hutan Rawa
Hutan rawa terdapat di daerah-daerah yang selalu tergenang air tawar. Umumnya terletak di belakang hutan payau, itu berarti hutan rawa terletak dari arah tepi laut sesudah hutan payau. Seperti pada hutan payau, Hutan dicirikan oleh adanya tempat tumbuhan yang mempunyai aerasi yang buruk.
7. Hutan Payau
Hutan payau adalah suatu ekosistem yang unik dengan bermacam- macam fungsi. Hutan payau dari daerah pantai yang selalu dan secara teratur tergenang air laut, dipengaruhi pasang surut  air laut dan tidak berpengaruh dengan iklim. Kawasan hutan payau berkisar 25m sampai beberapa kilometer.
8. Hutan Pantai
Terdapat didaerah kering ditepi pantai. Hutan tersebut tidak berpengaruh oleh iklim pada daerah dengan kondisi tanah berpasir  dan berbatu-batu serta terletak diatas garis pasang tertinggi.Hutan pantai biasanya tidak lebar dan terdapat dipantai yang agak tinggi dan kering.

  1. Peranan Budi Daya Hutan Dalam Kehutanan
Budi daya hutan berkaitan erat dengan control terhadap proses pertumbuhan pohon.Komposisi jenis tumbuhan dan kualitas tegakan hutan dan pohon hutan seperti bagaimana mereka tumbuh berproduksi dan bereaksi terhadap perubahan lingkungan dipelajari dalam lingkungan kehutanan yang disebut dengan silvika. Silvika merupakan dasar ilmu budi daya pohon yang mengandung aspek-aspek penerapan metode penanganan hutan berdasarkan silvika yang dimodifikasi sesuai dengan keadaan dan tujuan pengolahan hutan.
Untuk dapat menguasai seni menghasilkan  hutan tidak cukup hanya mengetahui prinsip dan cara teknis budi daya pohon saja tetapi juga harus mencakup praktik budi daya pohon secara terinci untuk semua jenis kayu yang berharga danjuga tipe-tipe hutannya. Pengendalian dan control terhadap struktur tegakan hutan menghendaki kaidah-kaidah yang memadukan pengetahuan biologi, pengolahan dan ekonomi.
Konsep dasar budi daya pohon adalah bahwa pemilihan perlakuan silvicultur yang tepat, baik pada hutan alam maupun hutan tanaman bergantung pada tingkat control interaksi genotif-genotif lingkungan terhadap perkembangan fisiologis tegakan.